TAFSIRAN KELUARAN 17 : 1-7
Teks : (Terjemahan Sendiri)
(1) Lalu Segenap anak Israel berangkat dari padang gurun Sin, dan setelah mereka berjalan, berdasarkan perintah TUHAN, berkemahlah mereka di Rafidim. Akan tetapi, di sana, tidak ada air untuk diminum oleh bangsa itu. (2) Maka, mengeluhlah bangsa itu kepada Musa dan mereka berkata : “berikan kami air untuk diminum!” kemudian Musa berkata kepada mereka : “mengapa kamu mengeluh kepadaku? Mengapa kamu mencobai TUHAN? (3) Ketika bangsa itu semakin haus akan air, mereka terus- menerus mengeluh kepada Musa, dan berkata : “ Mengapa kamu membawa kami pergi dari Mesir untuk membuat kami, anak-anak lelaki kami, dan ternak-ternak kami mati kehausan?(4) Setelah itu, berteriaklah Musa dengan keras kepada TUHAN, katanya : “Apa yang harus aku perbuat terhadap bangsa ini? Sekali lagi, mereka akan melempari aku dengan batu.(5) Dan TUHAN berkata kepada  Musa : “berjalanlah duluan sebelum bangsa itu, kemudian  bawalah besertamu beberapa tua-tua Israel dan juga tongkatmu di tanganmu yang kamu gunakan untuk memukul sungai Nil, lalu kamu pergilah.(6) Lihatlah! Aku akan berdiri di depanmu, di sana, di gunung batu di Horeb, dan kamu pukullah gunung batu itu, maka dari dalamnya akan mengalir keluar air untuk diminum bangsa itu. Lalu, diperbuatlah Musa seperti demikian, dan dilihat oleh tua-tua Israel.(7) Tempat itu dinamakan Masa dan Meriba, sebab di situlah, anak-anak Israel telah mengeluh dan telah mencobai TUHAN ketika mereka bertanya :  “Apakah TUHAN hadir di tengah-tengah kita atau tidak?”
Pendahuluan
            Kisah ini termasuk ke dalam rentetan peristiwa pergumulan anak-anak Israel (Beney Yisrael) mengenai alam dan kebutuhan dasar kehidupan seperti makanan dan minuman. Setelah berhasil menyebrangi Laut Gelagah di Ps. 14 : 15-31; 15 : 22. (Bukan laut merah! hanya berupa genangan air dangkal tetapi berlumpur dan berpasir)[1], mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Mara, tetapi di sana, mereka harus menerima kenyataan bahwa air di tempat tersebut pahit dan tidak layak untuk diminum. Mulailah mereka menggerutu sebab mereka kehausan dan membutuhkan air (Kel. 15 : 24). Melihat kondisi tersebut, TUHAN bertindak melalui sepotong kayu yang dilemparkan Musa ke dalam air sehingga air yang pahit tersebut menjadi manis dan layak untuk diminum ( Kel. 15 : 25). Setelah itu, berangkatlah mereka ke Elim dan di sana terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon Korma sehingga mereka berkemah di sana (Kel. 15 : 27) sebab mereka tidak akan kekurangan air dan makanan. Dari Elim, anak-anak Israel berangkat ke padang gurun Sin yang letaknya di antara Elim dan gunung Sinai (kel.16 : 1). Sekali lagi, mereka harus bergumul dengan persoalan kebutuhan dasar yakni makanan.
Di padang gurun Sin tersebut, mereka kelaparan dan bersungut-sungut kepada TUHAN  melalui Musa sehingga TUHAN memberikan mereka makan “Manna” pada pagi hari dan burung puyuh pada petang hari (Kel.16 : 12-36).
Setelah peristiwa di padang gurun Sin ini, barulah masuk ke peristiwa di pasal 17 : 1-7 yang mana jika di kisah sebelumnya, anak-anak Israel bergumul dengan makanan, kali ini, mereka harus bergumul dengan rasa haus yang teramat sangat. Sekilas, nampak, bahwa kisah ini diproduksi oleh sumber Y yang ditandai dengan penyebutan ilahi sebagai “TUHAN” (YHWH). Selain itu, komunikasi langsung antara TUHAN dan Musa semakin memperkuat dugaan bahwa kisah ini diproduksi oleh Sumber Y. Martin Noth, mengungkapkan bahwa kisah ini merupakan pengantar atau pendahuluan dari tradisi sumber P yang berbicara mengenai peristiwa penerimaan “Hukum TUHAN” di gunung Sinai di Pasal selanjutnya (Kel. 19 : 1-25).[2] Fretheim, menambahkan bahwa kisah ini tidak hanya berbicara mengenai persoalan kebutuhan hidup, tetapi juga mengenai iman dari bangsa Israel kepada TUHAN.[3] Dilanjutkan oleh Dods, ia mengatakan bahwa inilah kisah tentang kelemahan manusia dan kesabaran yang Ilahi.[4] Memang di satu sisi, pendapat Fretheim dan Dods tidak bisa diabaikan, tetapi sebelum menarik kesimpulan mengenai iman, kelemahan manusia dan kemurahan sang Ilahi, mesti dilihat juga betapa runyam masalah yang sedang dihadapi oleh bangsa Israel. Sebagian ahli mengatakan bahwa kisah ini merupakan cerita asal-usul (etiologi) mengenai nama suatu tempat dimana perselisihan berakhir.[5] Ketiadaan air sebagai prasyarat hidup begitu menekan emosi bangsa ini sehingga tidak bisa tidak keluhan mengucur keluar dari perkataan mereka. Secara khusus kepada Musa sebagai pemimpin mereka, kemudian ditujukan kepada TUHAN sebagai “pemimpin otoritatif” yang telah membawa mereka kepada situasi sulit seperti itu.
Saya akan membagi perikop ini ke dalam empat bagian besar, yang dirangkai sebagai berikut.
1. Setting tempat peristiwa (ayat 1 )
2. Keluhan bangsa Israel kepada Musa (ayat. 2-3)
3. Dialog Musa dengan TUHAN dan Jawaban TUHAN (ayat. 4-6)
4. Pernyataan penutup (ayat. 7)
Isi Tafsiran
Tempat peristiwa
Ayat 1 : Setelah peristiwa Manna di padang gurun Sin, berangkatlah anak-anak Israel (Beneyy yisrael) dan tiba di Rafidim (בִּרְפִידִ֔ים). “Rafidim” muncul pula dalam Bil. 33:14 sebagai salah satu tempat persinggahan orang Israel di padang gurun. Baik di ayat 1 maupun di Bil. 33:14, sama-sama memberikan keterangan mengenai tempat ini, yaitu “tidak ada air” (weayyin maiym, “nothing water”). Keterangan ini mengisyaratkan kemungkinan bahwa Rafidim merupakan sebuah tempat yang tandus dan gersang, jauh dari oase, dan curah hujan- rendah. Pertanyaannya dimana lokasi Rafidim sebenarnya? Di Pasal 19 : 2, setelah berangkat dari Rafidim, mereka tiba di padang gurun Sinai dan anak-anak Israel berkemah di depan gunung Sinai. Asumsinya, Rafidim bisa jadi terletak tidak jauh dari gunung Sinai. Dan jika mengikuti alur narasi maka Rafidim rupanya diapit oleh dua padang gurun sekaligus, yaitu padang gurun Sin dan padang gurun Sinai. Dengan demikian, wajar kalau tempat itu tidak terdapat air dan sumber air. Apalagi, di peristiwa sebelumnya, bangsa Israel berhadapan dengan kelaparan di padang gurun Sin, sehingga tentu saja bangsa ini dilanda kehausan ketika berjalan menuju Rafidim. Lalu, mengapa anak-anak Israel berkemah di Rafidim kalau di situ tidak ada air untuk mereka minum? Alasannya, karena TUHAN-lah yang “memerintahkan” mereka untuk berkemah di sana. Frasa “perintah TUHAN” (ayat. 1) merupakan terjemahan saya sendiri dari kata “Al-piy Yahweh(עַל־פִּ֣י יְהוָ֑ה) dari kata dasar “Peh” yang secara harafiah diartikan sebagai “mulut” (mouth). Kata ini juga muncul di Keluaran 4 : 11, dan diterjemahkan dengan kata “lidah” (TB-LAI), Yosua 21 : 3 diterjemahkan dengan kata “titah”, Keluaran 12 : 4 diterjemahkan dengan kata “Keperluan”. Pada umumnya, kata peh diterjemahkan sebagai pernyataan (statement), keputusan (decision), dan command (perintah, titah). Dalam kisah ini, saya menggunakan kata “perintahyang mengandaikan anak-anak Israel harus bertindak sesuai dengan kehendak TUHAN. Keberadaan anak-anak Israel di Rafidim serta kesulitan yang di alami merupakan bagian dari perintah TUHAN yang harus mereka jalani, sebab mereka sadar bahwa mereka sedang dibimbing dan bukan membimbing. Wajar saja jika “protes” kemudian dilayangkan oleh anak-anak Israel kepada TUHAN sebab jika Ia yang telah membawa mereka ke situ, maka sudah seharusnya TUHAN bertanggung jawab terhadap kesulitan yang mereka alami. Jadi, pertanggungjawaban TUHAN-lah yang sedang dituntut oleh anak-anak Israel.
Kekecewaan mungkin dirasakan oleh anak-anak Israel karena yang mereka harapkan ialah kondisi yang baik, namun kenyataannya, kesulitanlah yang harus mereka hadapi. Inti dari kesulitan itu ialah persoalan mengenai ketiadaan “air” (maiym) di Rafidim. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Air tidak hanya penting bagi manusia tetapi juga bagi hewan dan tumbuhan. Kondisi ekonomi yang bergantung pada kegiatan pertanian, tentu air menjadi komponen penting dan utama.[6] seperti yang terungkap di Mazmur 1 : 3, pohon yang berada di tepi aliran “air” berbuah tepat pada musimnya. Ungkapan ini menggambarkan peran air sebagai suatu elemen yang menghidupkan.  Selain itu, “air” juga merupakan metafora dari berkat TUHAN (Yes. 65 : 8).  Dengan demikian, ketiadaan air jelas adalah sebuah masalah karena kelangsungan hidup menjadi terancam. Akan tetapi, Dalam hal ini, ketiadaan air bukanlah persoalan alam  yang langka di kisaran daerah Timur Tengah sebab memang curah hujan yang rendah setiap tahunnya (Kurang dari 8 inci), terkhusus di wilayah gurun sebelah timur dari Yerusalem membuat ketersediaan air menjadi berkurang.[7]Anak-anak Israel terus-menerus berjalan, maka tentu, ketika mereka kehausan, airlah yang menjadi kebutuhan terbesar mereka. Namun, karena tidak ada air, situasi menekan mereka hingga keluhan kepada TUHAN melalui Musa tidak dapat terelakkan.
Keluhan Bangsa Israel Kepada Musa
Ayat 2 : Ketiadaan air membuat bangsa Israel mengeluh (complain) kepada Musa. Kata “Mengeluh” diterjemahkan dari kata “wayyarev” dari akar kata “Riyv” yang secara harafiah berarti “perselisihan” atau “percekcokkan” (dispute, quarrel, NAS). Kata ini umumnya diterjemahkan menjadi “bertengkar” (TB-LAI). Dalam kisah Ishak di negeri orang Filistin (Kej. 26 : 20), terjadi pertengkaran antara para gembala Ishak dan para gembala Gerar yang disebabkan oleh sengketa kepemilikian sumur yang menghasilkan berlimpah air ketika digali. Kata “bertengkar” di situ menggunakan kata “wayyarivu”. Menarik bahwa di dalam kisah Ishak di negeri orang Filistin ini, septuaginta menggunakan kata “ἐμαχέσαντο dari kata dasar “μαχομαι” yang berarti bertengkar, berbantah, dan berkelahi. Itu berarti, “pertengkaran” yang terjadi antara para gembala Ishak dan para gembala Gerar berlangsung dengan sangat hebat bahkan bisa jadi merujuk ke konfrontasi fisik (berkelahi). Sedangkan, di ayat 2 ini, septuaginta menggunakan kata yang berbeda, yaitu “ἐλοιδορεῖτο dari kata dasar “λοιδορεω” yang berarti mengejek, mencaci-maki, dan menghina, mengeluh, menggerutu. Jadi, terlihat jelas bahwa terjadi pentas “adu mulut” yang hebat antara anak-anak Israel dan Musa dalam kisah ini. Saya, memilih menggunakan kata “Mengeluh” karena bagi saya, kata ini cukup mumpuni untuk mengungkapkan secara gamblang situasi sulit yang sedang dialami oleh anak-anak Israel. Situasi sulit tersebut yang pada akhirnya membuat mereka melontarkan keluhan. Keluhan anak-anak Israel ini diekspresikan dalam bentuk hinaan, ejekan, dan cacian (“mengomel”, BIS) kepada Musa selaku pemimpin rombongan. Sebagai seorang pemimpin, tugasnya ialah bertanggung jawab atas kebutuhan serta keamanan rombongannya. Namun, di sini, terlihat bahwa Musa pun tidak berdaya menghadapi kondisi yang ada. Ketika mereka meminta air kepada Musa, Musa pun merespon dengan sebuah pertanyaan : “Mengapa kamu mengeluh kepadaku?”. Pertanyaan Musa menyiratkan bahwa ia pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam menanggapi situasi tersebut. Wajar saja, bukan atas kehendaknya mereka harus berada dalam kondisi seperti itu, melainkan atas kehendak TUHAN. Dengan kata lain, pertanggungjawaban TUHAN-lah yang harus dituntut. Oleh karena itu, Musa melayangkan pertanyaan kedua, “Mengapa engkau mencobai TUHAN?” pertanyaan ini mungkin mau menunjukkan relasi antara Musa dengan TUHAN. Musa ingin menyampaikan sekaligus menekankan kembali perannya kepada anak-anak Israel. Ia adalah seorang pemimpin yang dipilih oleh TUHAN secara langsung. (Kel. 3 : 11-14; 4 : 13-17). Itu berarti, jika anak-anak Israel meminta pertanggungjawabannya sebagai pemimpin, maka sebenarnya pertanggungjawaban TUHAN-lah yang mereka tuntut. Bagi Musa, itu sebuah tindakan yang “mencobai” TUHAN. Namun, pertanyaan yang lebih mengusik batin ialah, benarkah bangsa Israel sedang mencobai TUHAN? Ataukah malah sebaliknya, TUHAN-lah yang sedang menguji kesetiaan mereka! Di satu sisi, memang terlihat bahwa anak-anak Israel-lah yang sedang mencobai TUHAN dengan meminta pertanggungjawaban dari-Nya, tetapi di sisi lain, Apakah tidak mungkin TUHAN juga meminta pertanggungjawaban dari anak-anak Israel menyangkut pertanggungjawaban mereka untuk setia pada TUHAN di tengah-tengah kesulitan yang menerjang? Jangan-jangan, “ketiadaan air” merupakan cara TUHAN untuk menguji kesetiaan anak Israel? Jika memang benar demikian, maka hal ini merupakan sebuah proses dimana anak-anak Israel dibentuk untuk tidak lagi berfokus pada pengenalan akan TUHAN yang bersifat “lahiriah”, tetapi bergerak semakin dalam menuju pengenalan akan TUHAN yang senantiasa menyertai mereka. Fretheim, melihat keluhan anak-anak Israel ini sebagai bentuk usaha mereka mencari bukti nyata atas penyertaan TUHAN. Baginya, bukan anak-anak Israel yang sedang mencobai TUHAN, tetapi TUHAN sendirilah yang sedang mencobai iman mereka kepada-Nya, seperti pada peristiwa di Mara (Kel. 15 :25).[8]
Dalam hal ini, saya sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Fretheim, namun, menurut saya, yang diuji disini bukan hanya soal iman tetapi juga kesetiaan anak-anak Israel.
Ayat 3 : Kondisi anak-anak Israel tampaknya semakin memburuk. Mereka semakin merasa haus. Tidak heran jika keluhan demi keluhan semakin gencar dilayangkan kepada Musa. Kata Ibrani “wayyalen”( וַיָּ֥לֶן), mempunyai arti berada dalam situasi dan posisi yang sama (konstan). Kata ini menunjukkan adanya kesan suasana cerita yang tidak berubah bahkan bergerak semakin meningkat. Di sini, terlihat bahwa anak-anak Israel terus-menerus menggerutu kepada Musa karena rasa dahaga yang tak tertahankan. Kondisi ketiadaan air yang terus berlanjut menghasilkan tuduhan demi tuduhan yang dilayangkan kepada Musa. Yang pertama, anak-anak Israel mempertanyakan kembali tujuan mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir : “ Mengapa kamu membawa kami pergi dari Mesir…?”. Pertanyaan ini mengingatkan kembali pada peristiwa pembebasan anak-anak Israel dari Mesir yang TUHAN lakukan lewat Musa, orang pilihan-Nya. Musa bersama kakaknya, Harun, berjuang melakukan diplomasi dengan Firaun agar dia mau membebaskan bangsa Israel. Akan tetapi, usaha tersebut gagal hingga TUHAN harus turun tangan melalui Musa dan mengadakan berbagai macam tulah yang meresonansikan penderitaan di seluruh tanah Mesir. Melihat berbagai peristiwa tersebut, anak-anak Israel beroleh pengharapan baru akan adanya penggenapan Janji TUHAN yang telah Ia ikrarkan kepada leluhur mereka, yakni Abraham. Melalui kepemimpinan Musa, mereka terus berjalan dan dibimbing menuju penggenapan janji tersebut. Namun, berhadapan dengan situasi sulit ini, bisa jadi anak-anak Israel merasa bahwa janji itu terlihat semakin kabur dan tidak jelas. Perasaan inilah yang coba bangsa Israel ungkapkan kepada Musa selaku pemimpin mereka. Barth, melihat kesulitan yang dihadapi anak-anak Israel sebagai cara TUHAN membentuk mereka menjadi bangsa yang tangguh sehingga mereka harus “jatuh” dulu setelah itu bangkit dan menjadi kuat. Jadi, menurut Barth, kesulitan ini bukanlah tanda kegagalan janji TUHAN, tetapi justru TUHAN sedang mempersiapkan anak-anak Israel untuk menikmati penggenapan perjanjian yang akan segera terjadi.[9]  Tuduhan kedua, “ … untuk membuat kami, anak-anak kami, dan ternak-ternak kami mati kehausan?”, nampaknya kerisauan hati anak-anak Israel kepada Musa memuncak dalam tuduhan kedua ini. kembali ke persoalan air sebagai kebutuhan prasyarat kehidupan, maka ketiadaan air membuat kehidupan menjadi terancam. Di benak anak-anak Israel, Musalah yang telah menggiring mereka berada dalam situasi seperti itu.
Oleh karena itu, mereka berasumsi bahwa Musa membawa mereka dibunuh ! Anak-anak Israel menjawab sendiri pertanyaan mengenai tujuan mereka dibawa keluar dari Mesir , yaitu bukan untuk melihat penggenapan janji TUHAN, melainkan untuk meregang nyawa di padang gurun. Rasa haus seolah telah mengaburkan tujuan TUHAN yang “sebenarnya” di dalam hati dan pikiran anak-anak Israel. Alan Cole, mengemukakan ide yang menarik mengenai kata “ternak-ternak” (Ibrani “miqneh”, cattle, YLT). Ia mengatakan bahwa narasi memberikan penekanan terhadap karakteristik dari anak-anak Israel sebagai Petani dan peternak sejati. Karakteristik ini tampak jelas dari kekuatiran mereka akan kematian, tetapi mereka masih memikirkan kondisi ternak-ternak mereka.[10] Ide serupa juga diungkapkan oleh Oesterley dan Robinson yang menjelaskan tentang kegiatan nomaden anak-anak Israel di padang gurun yakni bertani dan berdagang.[11] Dalam hal ini, saya setuju dengan ide yang ditawarkan . Kepedulian anak-anak Israel kepada ternak-ternak- mereka menunjukkan adanya sikap profesionalitas sekaligus solidaritas terhadap ternak sebagai sumber penghidupan (hak milik) dan ternak sebagai makhluk hidup. Dengan demikian, sangat pantas jika anak-anak Israel disebut sebagai  The True Israelite farmer.  
Dialog Musa dengan TUHAN dan Jawaban TUHAN
Ayat 4 : Setelah mendapat serangan hebat dari anak-anak Israel, Musa pun “berteriak” kepada TUHAN. Kata “wayyitsaq” (  וַיִּצְעַ֤ק ) juga muncul di Kejadian 27 : 34 dan diterjemahkan menjadi “meraung-raung dengan sangat keras” (TB-LAI). Selain itu, di Hakim-hakim 7 : 23, kata ini diterjemahkan berbeda, yakni “dikerahkanlah” (TB-LAI) yang kalau dipasangkan konteksnya, kata “dikerahkanlah” merupakan sebuah instruksi untuk berkumpul dan digerakkan secara serentak dan bersama-sama. Hal yang menarik ialah septuaginta menggunakan kata “ἐβόησεν”   dari kata dasar “βοαω” yang berarti berteriak dengan suara keras (cry aloud) atau sedang bersorak-sorak. Penggunaan yang sama juga terdapat di Kej.27:34 dengan bentuk yang berbeda, yaitu “ἀνεβόησεν”.  Agaknya, saya lebih setuju dengan terjemahan septuaginta , sehingga saya juga menerjemahkan kata “wayyitsaq” tersebut dengan kata “berteriaklah”. Berteriak merupakan kegiatan spontan yang mengekspresikan beragam kondisi seperti terkejut, tangisan yang teramat sangat, kesakitan, bahkan ketika bersorak kegirangan, dan masih banyak lagi. Lantas, jika Musa “berteriak” kepada TUHAN, pertanyaannya, apa yang menyebabkan Musa berteriak?
Kalau dicermati, nampaknya posisi Musa semakin tertekan dan terdesak. Hal ini terlihat dari pertanyaan yang ia sampaikan kepada TUHAN “Apa yang harus kuperbuat terhadap bangsa ini?” Musa sudah tidak lagi mampu melawan serta menahan arus keluhan yang terus-menerus mendatangi dirinya. Bisa jadi, karena tekanan yang hebat ini, membuat Musa berteriak dengan keras kepada TUHAN. Jika memang demikian, maka tentu Musa merasakan tekanan psikis yang teramat sangat.
Kalau anak-anak Israel merasa kehausan, maka Musa pun merasakan hal yang sama, ia juga kehausan! Namun, apakah hanya itu penyebab Musa berteriak? Rupanya tidak. Karena Musa akan dilempari batu oleh anak-anak Israel. Kata Ibrani “Oud( ע֥וֹד) memberikan keterangan waktu yang diterjemahkan oleh TB-LAI dengan kata “sebentar lagi”. Padahal, kata “Oud” secara harafiah berarti again. Septuaginta menggunakan kata “ἔτι”   yang berarti masih dan lagi. Menariknya , penggunaan kata “eti” ini cukup beragam dan dapat bermakna sebagai repetisi( atau pengulangan kejadian yang sudah terjadi) maupun sebagai tindakan pertama atau baru mau memulai suatu tindakan. Dalam kasus Musa, saya lebih setuju menggunakan kata “eti” sebagai repetisi karena semakin memperkuat alasan dan kesan mengapa  Musa berteriak dengan keras kepada TUHAN. Jadi, di sini, semakin terlihat lebih jelas mengapa Musa berteriak dengan suara keras kepada TUHAN, sebab ia sudah dilempari batu oleh anak-anak Israel dan akan sekali lagi dilempari batu oleh mereka. Mungkin saja, Musa merasa sangat kesakitan ketika dilempar pertama kali dan saat mengetahui bahwa dirinya akan dilempar lagi, di situlah ia mengadu kepada TUHAN. Konflik emosional yang terjadi antara Musa dan anak-anak Isarel akibat ketiadaan air semakin memuncak dan nampak jelas terjadi perubahan dari perang kata-kata atau beradu mulut ke konfrontasi fisik.
Ayat 5 : TUHAN tidak bisa tinggal diam ketika mendengar jeritan Musa, hamba-Nya. Ia segera memberikan jawaban sekaligus perintah guna menaggulangi konflik yang semakin memanas. Musa diminta untuk berjalan mendahului anak-anak Israel. Selain itu, TUHAN juga meminta Musa agar membawa serta beberapa orang tua-tua bangsa Israel (“Zaqqenim yisrael”) dan tongkat (“matteka”) yang dipakainya untuk memukul air sungai Nil (Kel. 7 : 20). Terdapat dua hal menarik dari perintah TUHAN kepada Musa ini. Pertama, mengenai keiikutsertaan tua-tua Israel mengikuti Musa ke tempat yang akan dituju oleh Musa, yakni suatu tempat dimana TUHAN akan melerai dan menyelesaikan persoalan yang terjadi. Bisa jadi, tua-tua Israel ini merupakan orang-orang yang paling keras suaranya ketika menyampaikan keluhannya kepada Musa. Akan tetapi, TUHAN menyuruh untuk membawa beberapa orang saja. Itu berarti, dari sekian banyak tua-tua Israel, beberapa orang ini dapat dikatakan sebagai tua-tua yang masih mempercayai Musa dan mau mendegarkannya. Kedua, alat yang harus dibawa oleh  Musa ialah tongkat yang dipakainya untuk memukul air sungai Nil. Kembali ke peristiwa menakjubkan dimana TUHAN membuat air sungai Nil berubah menjadi darah lewat tongkat yang dipegang oleh Musa dalam rangka memperingati Firaun agar segera membebaskan anak-anak Israel dari Mesir, kali ini, tongkat yang sama dipakai untuk menyediakan air bagi anak-anak Israel. “tongkat” yang dipakai TUHAN untuk mendatangkan musibah bagi Mesir, dipakai kembali untuk mendatangkan kelegaan bagi anak-anak Israel yang berdahaga. Dengan demikian, “tongkat” tidak hanya berfungsi sebagai pengingat akan peristiwa ajaib yang TUHAN sudah lakukan, tetapi sekaligus “tongkat” menyadarkan anak-anak Israel bahwa kesulitan atau musibah yang mereka alami saat itu akan berubah menjadi sukacita yang melegakan. Inilah wujud pertanggungjawaban TUHAN!
Ayat 6 :  Tempat yang menjadi tujuan Musa ialah “gunung batu” di “Horeb”. Kata yang di gunakan di sini adalah “hatsur”  (  הַצּוּר) secara harafiah berarti batu besar atau batu karang (“Gunung batu”, TB-LAI). Di Mazmur 77 : 16, Kata “bukit batu” menggunakan kata “misala” (  מִסָּ֑לַע ) dari kata dasar “sela”, dan kata serupa juga terdapat di Yeremia 13 : 4. Menariknya, kedua kata ini diterjemahkan septuaginta dengan kata yang sama, yaitu ‘πέτρας  dari akar kata “ πετρος” yang berarti batu karang atau batu dengan formasi yang berbeda, biasanya terdapat di padang gurun dengan struktur rapuh dan menyimpan air di dalamnya. Kata πετρος” memberikan petunjuk yang cukup berarti dalam memberikan gambaran mengenai spesifikasi gunung-gunung batu di daerah Palestina yang menyimpan air dengan struktur bebatuan lunak. Adapun gunung-gunung batu tersebut dikenal sebagai sumber mata air karena formasi batu kapur dengan dinding batu yang keropos sehingga mudah untuk dihancurkan.[12] Ke gunung batu inilah TUHAN memerintahkan Musa untuk pergi. Dengan membawa “tongkat” istimewa di tangannya, TUHAN menyuruh Musa untuk memukul dinding gunung batu tersebut sehingga dari dalamnya akan mengalir keluar air supaya segenap anak-anak Israel dapat minum. Meskipun masalah yang ada sudah terselesaikan, kejanggalan baru ditemukan, yaitu gunung batu tersebut terletak di “Horeb” (TB-LAI). Sedangkan, BIS menyebut letak “gunung batu” tersebut di “gunung Sinai). (“Aku akan berdiri di depanmu di atas sebuah batu besar di Gunung Sinai”, BIS).
Jadi, apakah Horeb dan Sinai merupakan dua tempat yang sama? Sebelumnya, di Keluaran 3 : 1, Musa menggiring kambing domba Yitro ke suatu gunung yang disebut gunung Allah, yakni gunung Horeb. Dengan demikian, mungkin saja Horeb dan Sinai merupakan dua tempat yang sama. Dan, jika kedua tempat ini memang sama, maka historisitasnya perlu direkonstruksi. Saya juga menduga bahwa penyebutan nama tempat yang berbeda ini mengindikasikan bertemunya sumber Y dan sumber E. Sebenarnya, ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar mempersoalkan lokasi gunung batu yang dituju oleh Musa. Adapun hal penting tersebut ialah TUHAN hadir dan berdiri di depan anak-anak Israel di gunung itu. Realita ini menunjukkan bahwa TUHAN sendirilah yang akan menunjukkan pertanggungjawaban-Nya bagi bangsa Isarel, ia hadir dan nyata lewat air yang mengalir keluar dari dalam gunung batu tersebut.
Satu hal lagi, “tongkat” Musa yang sebelumnya dipakai TUHAN untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan, kini hanya dipakai untuk memukul sebuah dinding gunung batu demi menyediakan air bagi umat-Nya. TUHAN ingin menunjukkan sekaligus mengajarkan kepada anak-anak Israel bahwa Ia tidak selalu hadir dengan perkara-perkara ajaib dan mencengangkan, tetapi Ia pun dapat hadir dalam perkara-perkara sederhana dengan memanfaatkan alam ciptaan-Nya untuk sebuah dampak yang besar.
Pernyataan Penutup
Ayat 7 : Di bagian terakhir, terdapat beberapa kesulitan. Yang pertama, tempat pengalaman anak-anak Israel itu dinamakan “Masa” (harafiah, “mencobai”,  מַסָּ֖ה) dan “Meriba” (harafiah, “bertengkar”   מְרִיבָ֑ה). Penyebutan satu tempat dengan dua nama ini menimbulkan pertanyaan serius, apakah benar tempat itu diberi dua nama sekaligus? Ataukah sebenarnya, dua nama itu merujuk kepada dua nama tempat yang berbeda dengan peristiwa yang berbeda pula? Kata “Masa” muncul beberapa kali di Ulangan 6 : 16; 9 : 22; 33 : 8. Ulangan 6 : 16 menyebut “Masa” sebagai tempat dimana bangsa Israel mencobai TUHAN. Dilanjutkan di pasal 9 : 22, “Masa” terletak di Tabera, di Kirbot-Taawa, dan tempat dimana bangsa Israel membuat TUHAN “gusar”. Kemudian, di pasal 33 : 8, mengenai berkat yang diterima suku Lewi dari Musa, dimana “Masa” disebut sebagai tempat pencobaan, dan penyebutan “Masa” berdampingan dengan penyebutan mata air “Meriba” sebagai tempat berbantah.  Berikutnya, mengenai “Meriba”, Kata ini muncul di Bilangan 20 : 13; 20 : 24;   27 : 14. Di Bilangan 20 : 13, mata air “Meriba” merupakan tempat dimana orang Israel bertengkar dengan TUHAN, tetapi di tempat itu pula TUHAN menunjukkan kekudusan-Nya. Lalu, Di pasal 20 : 24, mata air “Meriba” disebut sebagai tempat dimana Musa dan Harun telah “mendurhaka” kepada titah TUHAN. Selanjutnya, di pasal 27 : 14, mata air “Meriba” terletak di dekat Kadesh di padang gurun “Zin”, tempat dimana umat TUHAN memberontak. Dari berbagai data diatas, semakin sulit untuk menemukan kecocokkan dari kedua tempat ini. “Masa” dikatakan terletak di Tabera, di Kirbot-Taawa, sedangkan “Meriba” terletak di dekat Kadesh di padang gurun Zin. Oleh karena itu, saya menarik kesimpulan bahwa kemungkinan “Masa” dan “Meriba” adalah nama dua tempat yang berbeda. Alasan mengapa dua nama ini digabungkan ke dalam satu tempat dan satu peristiwa masih menjadi problem. Kemungkinan besar penyebutan dua nama tempat ini secara bersamaan merupakan bagian dari aktivitas redaksional yang menggabungkan  komposisi cerita yang seharusnya terpisah.[13] Argumen ini didukung oleh Childs yang mengatakan bahwa Masa dan Meriba merupakan dua tempat yang saling berhubungan tetapi tidak sama.[14] Dengan kata lain, kisah ini tidak lagi murni dari sumber Y, tetapi telah mengalami penambahan redaksional sehingga semakin memperumit keterkaitan yang jelas di antara tempat-tempat dalam cerita. Belum lagi, mengenai keterkaitan antara kedua nama tempat ini dengan Rafidim. Bukan tidak mungkin, lokasi Rafidim harus kembali dipertanyakan dan mesti direkonstruksi kembali.
Perdebatan historis mengenai letak Rafidim yang sebenarnya telah membagi para ahli ke dalam dua kelompok. Kelompok yang pertama berpendapat bahwa Rafidim terletak di kompleks sekitar gunung Sinai (wilayah “tetangga”) dengan berpedoman pada kisah selanjutnya di Pasal 19. Itu berarti, bagi kelompok yang pertama, Rafidim terletak tidak jauh dari gunung Sinai. Sedangkan, bagi kelompok yang kedua (diwakili oleh A. Musil) Rafidim merupakan sebuah tempat di punggung gunung yang disebut er-rafid,tepatnya di sebelah timur pesisir teluk el-aqaba di dekat semenanjung Sinai (Istilah sekarang “Sinai Peninsula”).[15] Sebelum menanggapi argumen kedua kelompok ini, terlebih dahulu, saya akan menggambarkan letak “Rafidim” berdasarkan kedua argumen tersebut.  
  



(Gambar penampang perkiraan lokasi Rafidim, Padang gurun Sin, dan gunung Sinai)
Dari gambar di atas, terlihat jelas perbedaan lokasi “Rafidim” menurut kedua kelompok. Kelompok yang pertama menganggap “Rafidim” berada di titik Rafidim 1 (keterangan berdasarkan gambar), sedangkan kelompok yang kedua menganggap bahwa “Rafidim” berada di sekitar titik Rafidim 2. Jika diperhatikan dengan seksama, maka dari padang gurun Sin ke titik Rafidim 2 (barat laut gunung Sinai)  memang lebih jauh daripada ke titik Rafidim 1 . Bisa jadi, kalau “Rafidim” yang dituju oleh anak-anak Israel berada di titik Rafidim 2, maka hal ini dapat memperkuat penyebab mengapa anak-anak Israel disengat oleh rasa haus yang luar biasa. Akan tetapi, jarak titik Rafidim 2 begitu dekat dengan sumber air (teluk Aqaba) sehingga tidak mungkin bagi anak-anak Israel sulit memperoleh air. Kenyataannya, memang di tempat itu tidak ada air. Keberatan berikutnya, yaitu Mengapa anak-anak Israel harus memutar begitu jauh untuk sampai ke gunung Sinai? dengan demikian, argumen kelompok kedua, menurut saya, memang sulit untuk diterima. Sedangkan untuk kelompok yang pertama, jarak dari padang gurun Sin ke titik Rafidim 1 memang lebih dekat, tetapi jauh lebih logis dan efisien untuk sampai ke gunung Sinai. Selain itu, titik Rafidim 1 memang terletak jauh dari sumber air sehingga cocok dengan apa yang tergambar di dalam cerita. Dengan demikian, saya lebih setuju kepada kelompok pertama karena setia pada keterangan narasi dan lebih logis.

Meskipun permasalah mengenai tempat-tempat ini semkain rumit dan kompleks, yang jelas bagi saya ialah bahwa kedua tempat ini merupakan tempat dimana anak-anak Israel mengukir cerita pengalaman mereka bersama TUHAN, entah itu pengalaman yang baik maupun yang buruk. Kesulitan kedua, yaitu menyangkut pertanyaan eksistensial tentang TUHAN sebagai catatan penutup dari penulis. Anak-anak Israel bertanya ,  “Apakah TUHAN hadir di tengah-tengah kita atau tidak?”. Pertanyaan ini menunjukkan pergumulan mereka yang tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan air, tetapi juga menyangkut eksistensi TUHAN yang mereka refleksikan lewat berbagai situasi sulit. Hal ini tentu saja dapat terjadi, mengingat dalam benak dan hati anak-anak Israel, eksistensi TUHAN nyata ketika mereka selalu dipuaskan dengan makanan dan minuman serta perbuatan-perbuatan ajaib dari TUHAN. Kali ini, TUHAN rupanya mengajari mereka tentang suatu hal mengenai Dia, yaitu bahwa Ia selalu hadir dalam berbagai situasi dan juga memakai cara-cara yang sederhana untuk menolong umat-Nya. Dengan demikian, bertambahlah pula pengenalan anak-anak Isarel mengenai TUHAN.
Penutup
Refleksi dan Relevansi Aplikatif
            Manusia adalah makhluk yang berkebutuhan. Oleh karena itu, kebutuhan menjadi dimensi penting yang mesti dimiliki oleh manusia. Kebutuhan manusia yang utama seperti makan dan minum harus terpenuhi sebab jika tidak terpenuhi, maka kelangsungan hidup manusia menjadi terancam. Realita ini tidak terbantahkan dari dulu hingga sekarang. Pengalaman bangsa Israel merepresentasikan sikap manusia ketika ia harus berhadapan dengan tuntunan kebutuhan pokoknya menyangkut soal makanan dan minuman. Dalam kisah Masa dan Meriba ini, kita beroleh gambaran yang jelas tentang betapa mengerikannya reaksi manusia ketika tidak ada air untuk diminum. Siapa saja dapat dipersalahkan, termasuk Tuhan!  Air sangat penting bagi kehidupan manusia. komponen alam ini difungsikan oleh manusia untuk minum, memasak, membersihkan, dan menutrisi hewan dan tumbuhan. Jadi, sudah jelas, jika tidak ada air maka aspek ekonomi manusia menjadi lumpuh, sebab sebagian besar kegiatan perekonomian manusia bergantung pada ketersediaan air.
           

Ketersediaan air di alam bergantung pada alam itu sendiri. Di konteks kita sekarang, khususnya di Indonesia, kekeringan seringkali melanda beberapa wilayah akibat musim kemarau. Kekeringan ini membuat masyarakat harus berhadapan dengan kesulitan yang besar. Mereka harus menahan haus yang sangat menyengat. Usaha yang dilakukan pun tidaklah mudah, mereka harus berjalan jauh untuk mencari mata air, bahkan merogok biaya untuk mendapatkan air. Kesulitan seperti ini tidak jarang menimbulkan keluhan demi keluhan dari masyarakat. Pertanyaannya, kepada siapakkah keluhan demi keluhan itu ditujukan? Jika kesulitan air terjadi karena proses alam, maka sudah jelas bahwa yang menjadi sasaran keluhan ialah alam itu sendiri. Pertanyaan selanjutnya, apakah setelah keluhan itu tersampaikan, ada solusi yang diperoleh?
`           Air merupakan representasi dari kebutuhan pokok manusia. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika kebutuhan pokok manusia tidak terpenuhi maka kelangsungan hidup menjadi terancam. Baik makanan maupun minuman diperoleh dari alam atas usaha dari manusia. Oleh karena itu, alam bertugas menyediakan penghidupan bagi manusia dan sebagai timbal baliknya, manusia turut menjaga dan memelihara alam. Jika tidak, maka alam akan bergerak dan merugikan manusia itu sendiri. Ketika, alam menindas manusia dengan menimbulkan kesulitan demi kesulitan maka seringkali alamlah yang menjadi pusat keluhan bahkan yang menggerakkan alam itu sendiri.
            Yang saya maksud dengan penggerak alam di sini ialah Allah. Dalam kehidupan orang beriman, Alam merupakan tanda kehadiran Allah. Melalui alam, Allah menyapa manusia dan memeliharanya. Ketika alam mengingkari tugasnya, maka respon alamiah manusia adalah mempertanyakan mengapa sampai terjadi demikian. Dengan kata lain, kehadiran Allah dipertanyakan. Sebenarnya, Allah senantiasa hadir di dalam kehidupan kita, akan tetapi kita sendirilah yang tidak mau mencari dan menyapa Dia. Ketika kita setia melaksanakan tugas kita untuk mencintai alam, maka di situlah kita akan menemukan Allah. Melalui alam yang kita cintai itulah, Ia memenuhi kebutuhan utama kita. Dengan demikian, Tugas kita sebagai orang-orang beriman ialah melindungi alam sebagai wujud apresiasi kita terhadap karya Allah yang memelihara kehidupan.



Daftar Pustaka
Gertz, J.C., Berlejung, A., Schmid, K., & Witte, M. 2017. Purwa Pustaka : Eksplorasi ke Dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama dan Deuterokanonika. Diterjemahkan oleh,  Setio, R. & Susanto, A.Cet.1. Jakarta : Gunung Mulia.
Wahono, W. 2015. Di Sini Kutemukan: Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab. Cet.18. Jakarta : Gunung Mulia.
Rogerson, J. 2006. Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula. Diterjemahkan oleh, Suleeman, S. Cet.3. Jakarta : Gunung Mulia.
King, P.J. & Stager, L.E. 2012. Life In Biblical Israel. Diterjemahkan oleh, Setio, R. & Susanto, A. Kehidupan Orang Israel Alkitabiah. Cet. 2. Jakarta : Gunung Mulia.
Dods, M. 1907. The Expositor’s Bible : The book of Exodus. New York : Amstrong & Son
Barth, C. 1969. Theologia Perjanjian Lama I. Jakarta : Gunung Mulia.
Oesterley, W.O.E & Robinson, T. H. 1951. A History Of Israel. Cet. 6. Oxford : Clarendon Press.
Cole, A. 1985. An Introduction and Commentary : Exodus.Wiseman, D.J. (ed). Cet. 2. England : Tyndale press.
Fretheim, T.E. 1991. Interpretation  A Bible Commentary for Teaching and Preaching : Exodus. Mays, J.L. (ed). Louisville : John Knox press.
Noth, M. 1959. Das Zweite Buch Mose : Exodus. Diterjemahkan oleh, Bowden, J.S. Old Testament Library : Exodus. Cottingen : Vandenhoeck & Ruprecht
Childs, B.S. 2012. Old Testament Library : Exodus. Ackroyd, P., Barr, J., Bright, J., & Wright G.E. (eds). Bloomsbury : SCM Press.
Barth, C. 1988. Theologia Perjanjian Lama 3. Cet. 2. Jakarta : Gunung Mulia.
  



[1] Wismoady Wahono, Di sini Kutemukan, Hlm. 107
[2] Martin Noth, Exodus, Old Testament Library, Hlm. 138
[3] Terence E. Fretheim, Interpretation A Bible Commentary for Teaching and Preaching, Exodus, Hlm. 188, Kisah ini merupakan “tipologi” kehidupan (life) dan iman (Faith)
[4] Marcus Dods, The Expositor’s Bible : The book of Exodus, Hlm. 249
[5] Brevard S. Childs, Old Testament Library : Exodus, Hlm. 307
[6] King & Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, Hlm. 140
[7] John Rogerson, Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula, Hlm. 60 tentang “Alam”.
[8] Terence E. Fretheim, Interpretation A Bible Commentary for Teaching and Preaching, Exodus, Hlm. 189
[9] Chr. Barth, Theologia Perjanjian Lama : Jilid 1, Hlm. 160-161
[10] Alan Cole, Exodus : An Introduction and Commentaries, Hlm. 134
[11] Oesterley & Robinson, A History Of Israel, Hlm. 97
[12] King & Stager, Kehidupan Orang Israel Alkitabiah, Hlm. 141.
[13] Gertz, Berlejung, Schmid, Witte, Purwa Pustaka, Hlm. 287
[14] Brevard S. Childs, Old Testament Library : Exodus, Hlm. 306
[15] Marthin Noth, Old Testament Library : Exodus, Hlm. 138

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EKSPOSISI KITAB LUKAS 7: 36--50

KAPASITAS SEORANG PELAYAN